20 Saksi Di Periksa, Direktur RSUD Banten Jadi Tersangka

20 Saksi Di Periksa, Direktur RSUD Banten Jadi Tersangka

56 views
0
BERBAGI

BANTEN | Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti resmi menyandang status tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana jasa pelayanan (jaspel) di RSUD Provinsi Banten tahun 2016 senilai Rp 17,872 miliar.

“Betul sudah kita tetapkan (tersangka). Penetapan kita lakukan setelah gelar perkara pada Kamis (20/7/2017),” kata Kasie Pidsus Kejari Serang Agustinus Olav Mangontan melalui sambungan telpon, Senin (24/7/2017).

Untuk terus mendalami kasus ini Olav mengatakan Penyidik hari ini memeriksa 20 orang saksi-saksi dari pihak Direksi RSUD Banten dan pihak terkait. “Ada juga dari yang lain. Sebagian memang dari RSUD. Kalau nggak selesai hari ini kita lanjutkan besok,” kata Olav.

Setelah semua saksi-saksi diperiksa, Olav melanjutkan pihaknya akan memeriksa Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti. “Setelah semua beres, baru kita periksa Direkturnya,” kata Olav.

Sebelumnya, kasus ini diusut Penyelidik pidana khusus (Pidsus) Kejari Serang. Dugaaannya telah terjadi penyimpangan dana jaspel yang merugikan negara sebesar Rp 1,909 miliar.

Uang miliaran rupiah tersebut diduga mengalir ke sejumlah oknum pegawai di RSUD Banten.
Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Serang Agustinus Olav Mangontan mengatakan penyelidikan kasus dilakukan sejak 17 April 2017 lalu. Kasus tersebut diusut setelah penyelidik mendapati informasi tentang adanya dugaan tindak pidana korupsi jaspel.

Penyidik meyakini telah terjadi serangkaian tindak pidana dengan menyalahgunakan wewenang dan memperkaya diri sendiri.

Berdasarkan proses penyelidikan, jelas Olav, perbuatan dugaan tindak pidana tersebut bermula dari pemindahan dana jaspel yang berasal dari pasien umum, pasien tidak mampu pengguna SKTM dan insentif pegawai RSUD Banten baik dokter, perawat, staf serta  office boy (OB).

Jumlah dana jaspel tersebut berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Banten Nomor 33 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pemungutan Retribusi Pelayanan Kesehatan pada RSUD Banten terdapat insentif 44 persen atau Rp 17,872 miliar. Namun dari Rp 17,872 miliar itu, terdapat uang Rp 1,909 miliar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Uang itu, diduga mengalir kepada sejumlah oknum pegawai di RSUD Banten.

“Hasil perhitungan Inspektorat Banten kerugian negara mencapai Rp 1,909 miliar. Tapi ini kami masih kembangkan karena tidak menutup kemungkinan bertambah,” ucapnya.

Saat proses penyelidikan, penyelidik telah meminta keterangan sejumlah pihak terkait termasuk Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti beserta tiga Wakil Direktur (Wadir) RSUD Banten. “Jumlahnya ada 18 orang yang kami telah mintai keterangan. Direktur dan tiga Wadir juga telah kami mintai keterangan,” katanya.

Untuk proses penyidikan selanjutnya, penyidik akan melakukan pemanggilan saksi dan melengkapi alat bukti untuk mencari calon tersangka. “Kami akan lakukan pemanggilan saksi. Kalau untuk calon tersangka nanti, kami akan rampungkan perkara ini sesegera mungkin,” tuturnya.

Sementara itu Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti belum dapat dimintai keterangan terkait status tersangka ini. Wartawan masih mengupayakan mendapat konfirmasi dari yang bersangkutan. (Red) [respekNEWS]

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY