Pemprov Banten Didesak Keluarkan PERDA Perlindungan Bahasa Daerah

Pemprov Banten Didesak Keluarkan PERDA Perlindungan Bahasa Daerah

35 views
0
BERBAGI

Banten – Penutur bahasa ibu atau bahasa daerah di Banten mengalami penurunan, terutama di wilayah perkotaan. Pemprov Banten didesak untuk segera membuat kebijakan berupa peraturan daerah (perda) tentang perlindungan bahasa daerah.

Qizink La Aziva, salah satu pendiri dan admin Komunitas Bahasa Jawa Serang menyatakan bahwa di Banten terdapat beberapa bahasa ibu, di antaranya Bahasa Sunda Banten yang banyak digunakan masyarakat Pandeglang dan Lebak, Bahasa Jawa Serang yang banyak digunakan di wilayah Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Selain itu juga ada Bahasa Melayu dialek Betawi yang banyak digunakan warga di wilayah Tangerang.

“Ada juga penutur Bahasa Lampung di Komunitas Lampung yang ada di Cikoneng, Anyer. Ini juga salah satu kekhasan khasanah budaya di Banten yang patut dilindungi,” ujarnya, Selasa (20/2/2018).

Ia menyebutkan, penggunaan bahasa ibu, khususnya Bahasa Jawa Serang mulai menurun terutama di kalangan anak muda perkotaan. “Kami dari Komunitas BJS membuat sejumlah program untuk  ikut melestarikan bahasa khas ini, misalnya mewajibkan anggota komunitas untuk menggunakan bahasa ibu dalam setiap komunikasi, baik saat di dunia maya maupun dalam pertemuan-pertemuan,” ujarnya.

Kepala Kantor Bahasa Banten M Luthfi Baihaqi MA tak menyatakan penutur bahasa ibu di Provinsi Banten di daerah perkotaan sudah mengalami penurunan. Generasi muda banyak yang tidak menggunakan bahasa daerah lagi dalam komunikasi informal di ranah keluarga dan lingkungan sosialnya. Banyak faktor yg menyebabkan, salah satunya lingkungan yg tidak mendukung, baik dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitarnya.
“Tetapi untuk di daerah perdesaan, pelosok atau daerah yang homogen penuturnya, bahasa ibu masih terjaga di daerah itu,” ungkapnya.

Dikatakan, Kantor Bahasa Banten dalam rangka rangkaian peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh setiapbtanggal 21 Februari telah melaksanakan kegiatan bengkel penulisan naskah drama radio berbahasa Jawa Banten di Kota Cilegon,  penulisan cerita rakyat berbahasa Sunda Banten di kabupaten Lebak, kemudian Revitalisasi Sastra Wayang Betawi di Kota Tangsel.  “Kegiatan ini dilakukan selain untuk melatih kemampuan siswa dalam menulis juga dalam rangka pelestarian dan perlindungan bahasa daerah terutama bagi generasi muda,” ungkapnya.

Kantor Bahasa Banten juga memberi apresiasi ke Pemerintah Kota Cilegon dan Lebak yang membuat regulasi berupa perwal dan perbup dalam melindungi  bahasa daerah di daerahnya. Menurutnya, sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, kewenangan perlindungan dan pelestarian bahasa daerah berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten atau kota. “Tinggal kami menunggu komitmen Pemerintah Provinsi Banten untuk membuat regulasi dalam bentuk perda perlindungan bahasa ibu di Banten ini,” ujarnya. (Job/red)

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY