Terorisme dan media sosial jadi fokus tiga negara ASEAN

Terorisme dan media sosial jadi fokus tiga negara ASEAN

21 views
0
BERBAGI

JAKARTA, Indonesia| Tiga negara Asia Tenggara yakni Indonesia, Filipina dan Malaysia sepakat mempelajari sebuah rencana untuk membendung penyebaran terorisme melalui media sosial. Itu merupakan salah satu dari 15 poin kesepakatan pertemuan trilateral yang dilakukan pada Kamis, 22 Juni di Manila.

Ketiga negara memasukan 15 poin tersebut ke dalam rencana aksi usai dilakukan pertemuan tertutup di Hotel Conrad di Pasay City. Pertemuan itu dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menlu Filipina Peter Cayetano, dan Menlu Malaysia Anifah Aman. Turut mendampingi para pejabat berwenang terkait seperti dari unsur kepolisian dan militer.

Pertemuan itu diselenggarakan usai terjadi beberapa serangan teror di kawasan. Ini termasuk bom bunuh diri panci di terminal Kampung Melayu pada 24 Mei dan peperangan antara pasukan militer Filipina dan kelompok teroris di kota Marawi sejak 23 Mei.

Di dalam rencana dari tiga negara yang diajukan, salah satunya berisi usulan untuk membendung penyebar luasan terorisme dan konten terkait teroris di dunia maya, khususnya di media sosial. Di dalam proposal itu, juga diusulkan rencana untuk menghentikan pendanaan bagi teroris dan mengatasi akar penyebab terorisme, termasuk obat-obatan, tindak kejahatan, kemiskinan dan ketidakadilan sosial.

Mengatur media sosial?

Dalam sees doorstep dengan media usai pertemuan itu, Menlu Cayetano mengatakan Indonesia, Filipina dan Malaysia berencana untuk membasmi teroris kelompok ISIS, bukan hanya melalui senjata tetapi juga pendidikan dan komunikasi.

“Kami mencatat bahwa media sosial juga banyak digunakan tidak hanya untuk menghubungkan para teroris satu sama lain, kelompok ekstrimis, tetapi juga untuk merekrut mereka. Jadi, kami juga harus lebih kreatif dari para ekstrimis dan teroris,” ujar Cayetano.

Dia sempat ditanya apakah akan ada upaya regional yang ditempuh untuk mengatur media sosial untuk menghentikan aksi teror. Menurutnya, kesepakatan yang dicapai oleh pejabat dari tiga negara bukan mengatur tetapi mengidentifikasi bagaimana para teroris menggunakan media sosial, apa yang tengah mereka gunakan, dan cara untuk menghentikan penyebarannya.

CEO dan editor eksekutif Rappler Maria Ressa pernah menulis mengenai cara ISIS menggunakan media sosial untuk merekrut anak-anak muda. Rata-rata usia mereka masih 15 tahun.

“Penyebaran radikalisasi di media sosial sangat mengkhawatirkan pemerintah, sektor pribadi dan masyarakat sosial justru terlambat untuk mencari cara bersama dalam melindungi anak-anak mereka. Tujuannya: mencari cara untuk memenangkan pertempuran di mana mereka kalah – sebuah peperangan untuk hati dan pikiran anak-anak muda, mayoritas Muslim di seluruh dunia,” ujar Ressa dalam laporannya ketika itu.

Pertemuan di Manila dilakukan secara tertutup, tetapi ketika ketiga Menlu menyampaikan pernyataan pembuka masih diizinkan untuk diketahui publik. Mereka menunjukkan pentingnya pentingnya peranan dari media sosial.

Dalam pernyataan pembukanya, Menlu Retno mengatakan anggota teroris asing (FTF) dan media sosial sebagai faktor yang membuat ancaman teror lebih buruk.

“Adalah kewajiban bagi kita semua untuk mulai melakukan tindakan nyata. Ini disebabkan fakta bahwa ancaman terorisme lebih mengkhawatirkan karena adanya FTF dan media sosial,” ujar Menlu perempuan pertama itu.

Oleh sebab itu, Retno mengatakan kerja sama di antara tiga negara dianggap cukup penting dan diperlukan.

“Kerja sama di antara kita bertiga merupakan sebuah keharusan,” katanya.

Sementara, Menlu Malaysia Anifah Aman memaparkan tiga tantangan yang dihadapi oleh dunia modern terkait tindakan teroris. Pertama, menurutnya, teroris saat ini justru menyambut baik kematian pelaku tindak teror dan diri mereka sendiri.

“Justru jauh lebih sulit untuk menghentikan orang-orang yang bersedia untuk mati,” kata Anifah.

Kedua, teknologi yang memudahkan para teroris menyebarluaskan pesan lebih cepat dan luas dibandingkan sebelumnya. Kemungkinan besar mereka sangat ahli dalam menggunakan media sosial untuk merekrut pengikut baru.

Faktor ketiga yakni adanya perasaan ketidakpuasan, dipermalukan dan diasingkan di beberapa sektor.

“Kini, para teroris mengeksploitasi situasi itu menjadi keuntungan mereka,” tutur dia.

Ketidakadilan dan ekstrimisme

Menlu Cayetano yang berbicara di bagian akhir mengutip ayat yang terdapat di dalam Alkitab.

“Di dalam bab Yakobus tertulus bahwa kepercayaan tanpa aksi adalah sebuah kematin. Islam adalah sebuah agama yang juga mengajarkan jika kepercayaan dan aksi mereka harus dijalankan bersama-sama. Bahkan, semua agama hebat di dunia mengajarkan keyakinan harus sejalan dengan aksi,” tutur dia.

“Kesamaan dari itu semua adalah dasar dari ini semua seharusnya adalah cinta,” kata Cayetano.

Dasar para ekstrimis atau teroris adalah ketakutan, permusuhan dan kebencian. Dengan itu semua, tuturnya, terorisme adalah sebuah aksi yang didasari karena para pelakunya atau teroris percaya terhadap tindakan mereka itu.

“Kristus mengajarkan cinta. Islam mengajarkan cinta. Semua agama hebat di dunia ini mengajarkan cinta. Dan para ekstrimis dan teroris bukan pengikut agama yang selama ini mereka klaim,” katanya.

Cayetano mengatakan pertemuan pada Kamis kemarin sengaja diadakan sehingga ketiga negara bisa dapat saling membantu dan peduli satu sama lain.

“Ketika peperangan saat ini berada di tangan personel militer, maka kita juga tidak mengabaikan pandangan dari aksi lainnya seperti penyelundupan narkoba, tindak kejahatan, kemiskinan dan ketidak adilan yang dapat menyuburkan ekstrimisme. Perjuangan untuk mengangkat kesetaraan dan kualitas hidup satu sama lain harus menjadi fokus yang utama,” tutur dia. dilansir dari Rappler.  (RESPEKNEWS.COM)

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY