Bupati Lebak Minta Warga Tidak Panik, Adanya Prediksi Tsunami Setinggi 57 Meter...

Bupati Lebak Minta Warga Tidak Panik, Adanya Prediksi Tsunami Setinggi 57 Meter Di Pandeglang

127 views
0
BERBAGI

Kab. Lebak, RESPEKNEWS.COM –  Dengan adanya pernyataan para ahli tentang akan terjadi potensi tsunami besar setinggi 57 Meter di Laut Pandeglang – Banten dan bergeser ke kabupaten Lebak, Serang dan Tangerang yang diberitakan oleh beberapa media online, Selasa (3/4/2018) kemarin.
Plt Bupati Lebak Ino S Rawita, menghimbau pada Masyarakat lebak untuk tidak panik karena pernyataan itu belum tentu terjadi atau kapan terjadinya hanya Allah Yang Maha kuasa Yang Maha Tahu.
“Yang terpenting bagaimana kesiapan kita untuk mempersiapkan diri, melatih diri untuk mengantisipasi kalau2 terjadi bencana itu benar adanya, karena bencana bisa menimpa siapapun, dimanapun, kapanpun, tapi kalau kita telah waspada terhadap berbagai kemungkinan,insya Allah kita akan dapat mengatasi semua permasalahan yang akan terjadi,” kata Bupati Lebak Ino S Rawita pada respeknews. Rabu (4/4/2018).
Sebelumnya diberitakan, Peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko memprediksi ada potensi tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten. Tsunami ini juga diprediksi akan mencapai Jakarta Utara.

Widjo mengatakan tsunami itu bisa terjadi karena di Jawa Barat tengah diprediksi adanya gempa megathrust di daerah subduksi di selatan Jawa dan Selat Sunda. Salah satu contoh dampak gempa megathrust ini adalah adanya gempa di Banten pada akhir Januari 2018. Apabila kekuatan gempa mencapai 9 skala Richter di kedalaman laut yang dangkal, tsunami besar akan terjadi.

“Di Jawa Barat itu sumber gempa besar. Di situ bisa dikatakan di selatan bisa mencapai 8,8 Magnitudo atau 9 sehingga kaidah umum kalau di atas 7 Magnitudo dan terjadi di lautan dangkal sumbernya, maka potensi tsunami besar akan terjadi di daerah sana (Pandeglang),” kata Widjo di gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/4/2018) dilansir detik.com.

Widjo menyampaikan ini dalam diskusi sumber-sumber gempa bumi dan potensi tsunami di Jawa bagian barat. Peneliti LIPI Danny Hilmam Natawidjaya, peneliti ITB Irwan Meilano, dan peneliti Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Imam Suardi.

Tsunami tertinggi diprediksi akan terjadi di Pandeglang karena merupakan kabupaten paling dekat dengan laut selatan. Dalam hitungan setengah jam, tsunami diperkirakan akan mencapai daratan Kabupaten Pandeglang.

“Daerah Pandeglang dan Jawa Barat dan di daerah selatan karena paling dekat dengan sumber gempa bumi dan tsunami. Tetapi di sana cukup besar, bisa di atas 57 meter, dan jangka waktunya cuma kurang dari setengah jam. Jadi pendek tsunami sampai ke daratan,” ujarnya.

Selain di Pandeglang, tsunami itu diprediksi akan mencapai beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Beberapa wilayah itu di antaranya Sukabumi dengan ketinggian 41,5 meter, Ciamis 39,8 meter, Lebak 39,4 meter, Cianjur 3,2 meter, Garut 30,1 meter, Tasikmalaya 28,2 meter, Serang-Banten 5,5 meter, Tangerang 4,2 meter, Jakarta Utara 2,4 meter, dan Bekasi Utara 2,8 meter.

“Untuk di Jakarta sekitar 2,5-3 meter tsunami masuk dan waktu 3-5 jam,” ucap Widjo.

Widjo pun memprediksi tsunami ini akan terjadi lebih besar dibandingkan tsunami di Aceh pada 2004. Sebab, kedalaman laut di Jawa bagian barat lebih dalam dibandingkan Aceh.

“Ya (tsunami akan lebih besar) terutama di Aceh. Ya kalau di Aceh katakan skalanya 9 lebih skala Ritcher begitu. Kalau di sana juga terjadi segitu bisa besar seperti Aceh bahkan dari segi model bisa lebih besar karena kedalaman air di sana lebih dalam secara umum dibandingkan Aceh. Kalau semakin dalam, volume air yang dipindahkan semakin dalam dari gempa bumi kemudian tsunaminya menyebabkan besar,” kata Widyo.

Di tempat yang sama, Sekretaris Utama BMKG Untung Merdijanto mengatakan belum bisa memastikan kapan tsunami ini terjadi. Namun dia berharap seluruh pejabat pemerintah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dapat memuat mitigasi bencana untuk antisipasi.

“Kapan? Tentu kami tidak bisa memastikan karena belum ada alat yang bisa mendeteksi. Tetapi tentunya kami selalu mengadakan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada. Tentu yang paling penting adalah, kita telah mengetahui secara umum, meskipun belum detail kajiannya. Intinya, migitasi perlu kita siapkan sejak awal,” ucap dia. (Jb/Red)

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY