Pemuda Pembunuh Dan Pemerkosa Warga Cikeusal Di Tuntut 10 Tahun Penjara

Pemuda Pembunuh Dan Pemerkosa Warga Cikeusal Di Tuntut 10 Tahun Penjara

84 views
0
BERBAGI

Kab. Serang, (RN) – Terdakwa kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap S (18) warga Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. ER (17), dituntut 10 tahun penjara dan 6 bulan menjalani kerja sosial di Panti Sosial Marsudi Putra Handayani, Jakarta. Hal itu terungkap dalam sidang tuntutan kasus tersebut di Pengadilan Negeri Serang, Selasa (16/1/2018).

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari  Serang dalam persidangan tertutup menyebutkan hal-hal yang memberatkan terdakwa karena menghilangkan nyawa dan telah berbuat sadis terhadap korban. Terdakwa dinilai melanggar Pasal 80 ayat (3) dan 81 ayat (1) Undang Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Kita sudah lakukan tuntutan maksimal. Pasal 80 ayat 3 karena telah menghilangkan nyawa seseorang dan Pasa 81 ayat 1 karena melakukan persetubuhan,” kata Kasie Pidum Kejari Serang, M. Maelan melalui sambungan telpon.

Menanggapi tuntutan tersebut, orangtua korban Rofiedi, secara pribadi mengaku tidak puas dengan tuntutan yang diberikan tim JPU. “Kalau yang setimpal, menurut saya ya hukum seumur hidup atau hukuman mati,” kata Rofiedi ditemui usai persidangan didampingi Pengacara Korban, Andre Pratama.

Rofiedi menginginkan hukum yang setimpal karena tidak ingin ada korban-korban lain berjatuhan dengan kasus yang sama. “Saya tidak ingin ada korban lain dengan kasus yang sama. Cukup sampai di sini saja,” kata dia.

Ditambahkan Pengacara Keluarga Korban, Andre Pratama mengaku akan mengikuti persidangan sampai tuntas. “Kalau melihat tuntutan JPU mengacu UU Perlindungan Anak. Itu hak dari JPU. Namun selaku pihak korban kami akan melakukan judicial review ke MK untuk mengkritisi Undang Undang ini,” kata Andre.

Terpisah Ketua LPA Banten, Uut Muhammad Lutfi menyatakan dua wilayah yang masuk zona merah kasus kekerasan seksual terhadap anak di Banten yakni Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang. “Kita melihat dua wilayah ini, terutama tempat tinggal pelaku merupakan zona merah kasus ini,” ujar Uut.

Ia menilai ada pola asuh yang salah terhadap terdakwa dalam kasus ini. Segala permintaan terdakwa selalu dituruti orangtuanya. Sementara kontrol sosial di lingkungan tersebut sangat lemah.

“Peran warga diperlukan untuk mengontrol lingkungan dan anak-anak. Desa setempat harus punya fasilitas untuk menyalurkan kreativitas anak. Jangan sampai anak-anak menjadi pelaku dan korban kejahatan yang sama,” kata dia. (mnl/red)

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY