Catatan Singkat Tentang Wijayakrama, Arya Ranamanggala Dan VOC Tahun 1618

 

Respeknews.com. – Bagi sebagian kalangan menilai sejarah hanya rentetan peristiwa yang profan, biasa dialami setiap manusia atau bangsa dimana mereka berada. Bahkan tak ada sama sekali nilai sakral ( sacred value ) di dalamnya.

Namun bagi saya khususnya sejarah bukan sekedar kaca sepion, tapi sejarah seperti rumah tinggal yang di dalamnya ada kenyamanan, ketenangan dan tempat tumpahnya persoalan. Tapi meskipun ia seperti rumah tinggal, sejarah tak lebih menyampaikan ‘ibroh dan tamsil agar perjalanan ke depan bisa lebih baik dan bisa bermakna sakral dan menyejarah.

Sedikit kita mengingat ada hal yang terkait dengan lingkup sejarah dan bahkan ini luput dari perhatian kita. Adalah pemda DKI telah menerbitkan buku sejarah yakni Jakarta Kota Joang terbitan 2006.

Di dalam buku tersebut menarasikan perjalanan Jakarta sebagai Kota Bandar yang cukup ramai kala itu ( 1596 M ). Jakata adalah nama wilayah rebutan antara 3 poros kekuatan besar yang kala itu tengah bergejolak. Satu poros antara Kerajaan Pakuan Pajajaran dan Portugis ( pimpinan Alfonso D’Alburbourque ), poros kedua Kongsi Dagang Belanda atau VOC ( Verneeige Oost Indies Compagne ) dan poros ketiga gabungan Banten, kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak.
Pada awal abad 16, Jakarta sebelumnya adalah Sunda Kelapa yakni pelabuhan Kerajaan Pajajaran paling Utara selain Malaka di bagian Barat, atau pelabuhan Tuban bagian Timur.

Pegantian nama Sunda Kalapa ke Jayakarta diawali peristiwa perebutan pelabuhan Sunda Kelapa oleh gabungan Kerajaan Islam Demak dan Cirebon yang sangat berambisi untuk memotong langkah Asing ( Portugis ) dalam menguasai wilayah Jawa pasca kejatuhan Malaka oleh Portugis tahun 1511.

Beberapa puluh tahun kemudian sejak penaklukan Fatahillah Sang Panglima Kerajaan Islam Demak atas Sunda Kelapa dan bergantinya nama menjadi Jayakarta, kekuasaan dan otoritas dipegang oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama, seorang cucu Maulana Hasanudin Banten dari bapak Tubagus Angke dan ibu Ratu Fatimah Pembayun. Sang pangeran ini dengan kecerdasan dan keberanian mampu mengembangkan Jayakarta menjadi kota pelabuhan yang setara dengan Amsterdam Belanda kala tahun 1608, suatu perestasi yang cukup membanggakan sebagai daerah vassal dari Kesultanan Banten yang saat itu tengah dipegang oleh Wali Sultan yakni Pangeran Arya Ranamanggala yang tak lain adalah saudara misannya, sebab sama-sama cucu dari Maulana Hasanudin.

Di tahun itu ( 1608 ) intrik politik dan bandulnya bergerak seiring nafsu kekuasaan manusia. Jikapun kita sementara belum dulu berbicara takdir Tuhan, namun dari kejadian kecil ini ternyata berdampak cukup luas dan sangat tidak menguntungkan keduannya. Adalah perang Pailir yakni perang saudara dengan dominasi kepentingan ponggawa dan saudagar dan beberapa pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Arya Mandalika yang kebetulan saudara dari Arya Ranamanggala.

Perang Pailir ini sangat menyita perhatian kita betapa nafsu kuasa selalu menutupi nurani hati hingga sampai hilangnya arti persaudaran yang kita maknai sebagai sesuatau yang sakral. Latar perang ini adalah ambisi Pangeran Jepara ( keponakan Ratu Kalinyamat Jepara ) yang kebetulan masih putranya Maulana Hasanudin yakni adik dari Maulana Yusuf atau kakak dari Maulana Muhammad ( Ratu Ing Banten Sultan ke-3 ).

Hal yang wajar bagi Pangeran Jepara untuk menuntut haknya sebagai pewaris Maulana Hasanudin meski beda ibu dari kebanyakan para pangeran di keluarga Istana Surosowan. Perang tersebut ternyata menyeret keberpihakan Pangeran Jayakarta Wijayakrama dengan rencana awal sekedar membantu dan mendamaikan dua kubu besar tersebut yang tengah berhadap-hadapan dalam situasi hendak perang. Namun sikap itu ternyata dipandang oleh keluarga Surosowan sebagai sikap membela Pangeran Jepara yang kebetulan adalah pamannya sendiri. Situasi yang memang tidak menguntungkan Wijayakrama tentunya.

Perang saudara itu pecah di bulan Juli tahun 1608 dengan menyisakan kerugian kedua belah pihak, dan yang paling fundamental adalah dampak conflict of geneology antara keluarga Demak dengan Banten dan itu berlangsung cukup lama hingga sampai di keluarga Mataram ( pewaris kelanjutan Kesultanan Demak ), ketegangan, kecurigaan, dan bahkan terjadi perang bisu ( war of silence ) yang dialami oleh keturunan dari kedua belah pihak tersebut. Bahkan teragisnya Wijayakrama yang tengah berkuasa di Jayakarta harus merelakan jabatannya untuk diambil alih oleh Mangkubumi Arya Ranamanggala, sang Wali Sultan Kesultanan Banten.

Artinya Jayakarta yang tengah tumbuh pesat sebagai kota pelabuhan Internasional saat itu telah memberi jalan yang lebar bagi para Kongsi Dagang Asing yang berjiwa imperialis-kolonialis untuk menguasainya. Adalah Jean Peterzoon Coen ( Mayor Singa ) setahun setelah penobatannya sebagai Gubernur Jenderal VOC menggantikan Peter Both tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut ketika Jayakarta tengah dalam posisi yang kosong penguasa, meski setelah itu Wijayakrama kembali ke Jayakarta dalam situasi yang sudah dikuasi oleh kompeni VOC. Perang menuntut hak lagi-lagi dibuat oleh Wijayakrama setalah masa pengasingan ( bentuk hukuman pasca perang Pailir ) di Tanara, pesisir Banten utara telah selesai dan menemukan kota yang dibangunnya itu kini berbeda meski kemudian perang itu semakin menyudutkan Wijayakrama dan wafat di daerah Mesteer Cornelis ( kini Jatinegara ).

Sebagai puncak dari kemenangan atas Pangeran Wijayakrama maka dibangunlah Castile ( Kota Berbenteng ) dibuat oleh JP Coen pada tahun 1619 sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah dari Maluku berdiri tegak di pinggir pantai pasar ikan.

Inilah catatan historis yang menyita perhatian itu, betapa nafsu kekuasan ternyata justru akan merongrong kekuasaan tersebut. Bahkan pelajaran ini telah menciptakan dugaan bahwa ternyata politik kekuasaan dari masa ke masannya telah melahirkan “ perang bisu “ yang ternyata lebih sedih, pilu, tragis, menyakitkan dan lebih membatin dari pada perang yang sesungguhnya. Dan ini pulalah cikal kolonilisme –imperialsime Belanda di Nusantara diawali dari titik sejarah ini ( perang pailir ).Bersambung. (Red)

Penulis :  M Hamdan Suhaemi

Editor    : Sailindra RESPEK BANTEN

Related posts:

Tinggalkan Balasan

*