Riwayat Ikatan Ideologis Antara NU dan Banten

Riwayat Ikatan Ideologis Antara NU dan Banten

109 views
0
BERBAGI

Respeknews.com. Suatu hari di akhir Syawal di tahun 2001, pada acara haul Syekh Nawawi Al-Bantani, Tanara menjadi saksi sejarah yang selalu mengingatkan kepada kita seorang cucu Hadarotusyekh Hasyim Asy’ari yang saat itu Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidato kenegaraanya. Dalam petikan pidatonya tersebut sangat jelas menyatakan dengan sesungguhnya bahwa roh dari pada NU itu adalah orang yang dilahirkan di tanah ini ( Tanara) yaitu Al-Allamah Al-Magfurlah Al-Zahid Syekh Nawawi Tanara Al Bantani. Presiden Republik Indonesia ke- 4 yang kita kenal sebagai mantan ketua PBNU sekaligus ketua dewan syuro PKB itu adalah KH.Abdurrahman Wahid atau lebih akrab dipanggil Gus Dur.

Tak diragukan pernyataan yang keluar dari mulut sang darah biru NU itu adalah suatu kebenaran. Lain cerita jika yang bertutur adalah orang non-NU tentu geneology of history belum dikatakan kuat.

Pernyataan diatas diperkuat pula oleh KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU era 2000-2010 yang sama percisnya apa yang disampaikan oleh Gus Dur.
Dalam latar kesejarahannya NU lahir atas restu Syaikhona Kholil Bangkalan dengan mengutus santrinya untuk membawa tasbih agar disampaikan kepada hadarotussyekh, dari Bangkalan ke Jombang yang jaraknya lumayan jauh.

Kita tahu dalam catatan sejarahnya bahwa kedua orang ini adalah murid dari pada Syekh Nawawi Al Bantani, yang tengah masyhur sebagai Syyid Ulama’Al Hijaz. Hubungan batin antara guru dan murid seperti hubungan anak dan orang tua tentunya, Mbah Hasyim yang belajar kepada Syekh Nawawi sangatlah lama terhitung 7 tahun lebih, tentunya bisa kita tarik kesimpulan segala apa yang dicurahkan dari sang guru pastinya membekas di relung batin muridnya tersebut.

Secara langsung titah itu tentu tak pernah keluar dari sang syekh namun ideologiAhlu Sunnah yang ditancapkan di jiwa dan fikiran Mbah Hasyim dan Syaikhona Kholil sangatlah mendasar dan membawa dampak yang luar bisa di kemudian hari.

Kita mengenal Syekh Nawawi sangat tidak sepaham dengan ide pembaharuan yang digagas dan diplopori Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasid Ridho yang saat itu tengah gencar melanda jazirah Arabia bersamaan dengan naiknya dinasti Ibnu Saud mengambil alih kekuasaan dari tangan Syarif Husaen. Keadaan Timur Tengah yang sedang eufora kemenangan Ibnu Saud mengambil alih keuasaan Arab Saudi itu tentu menciptakan kegusaran tersendri para pengikut setia mazhab Ahlu Sunnah yang masih konservatif menjalankan tradisi bermazhab dan bertasawwuf. Adalah KH.Wahab Chasbullah murid Mbah Hasyim membentuk Komite Hijaz untuk ikut dalam Muktamar Umat Islam Dunia yang diselenggarakan di Mekkah sebagai bentuk protes terhadap kebijakan penguasa Arab dalam memperlakukan peninggalan sejarah Islam yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW tersebut. Komite Hijaz bentukan Kiyai Wahab tentunya ditolak oleh panitia muktamar dengan alasan masih sebentuk komite/panitia bukan atas nama lembaga. Maka dari peristiwa itu di tanggal 31 Januari 1926 berawal dari keanggotan Komite Hijaz maka lahirlah Jamiiyyah Nahdlotul Ulama( NU ) dengan sang Rois Akbar( pemimpin tertinggi ) adalah Hadarotusyekh Hasyim Asy’ari ( santri Syekh Nawawi Al Bantani ).

Kebulatan tekad hadarotusyekh untuk mendirikan NU melewati fasenya yang krusial setelah berkali-kalinya Mbah Kholil Bangkalan meberi isyarat restu kepadanya untuk mendirikan sebuah organisai ulama, sejak dikirimi tasbih sebagai isyarat dari Mbah Kholil di tahun 1925 setahun kemudian organisasi itu akhirnya terwujud.

Debutnya sebagai organisasi kemasyarakatan yang kesemuanya beranggotakan para kiyai pondok pesantren dengan dasar Qonun Asasi yang gariskan oleh Mbah Hasyim sendiri, NU tampil sebagai oraganisai yang berpegang teguh kepada empat Madzhab Fiqhiyyah dan berpegang teguh kepada Imam Abu Hasan Al Asyari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang akidah kemudian juga berprinsip kepada Imam Junaidi Al-Baghdadi dan para imam sunny lainnya di bidang tasawwuf.

Garis pandangan dalam Qonun Asasi yang merupakan gagasan ideologis dari hadarotusyekh inilah yang merupakan konstitusi NU yang sebenarnya.NU dikemudian hari telah menjelma menajdi organisasi raksasa dan sangat berperan dalam memainkan perannya baik dalam politik maupun dalam persoalan kenegaraan di republik ini.
Qonunul Asasi yang ditulis oleh Hadarotusyekh Hasyim Asy’ari merupakan pengejawantahan konsep ideologi dari sang guru Syekh Nawawi Al Bantani yang selalu dalam sesi pengajaranya di Mekkah menekankan untuk tetap bermazhab dan tetap berpegang teguh dengan Aqidah Ahlu sunnah Wal Jamaah.

Ikatan batin ideologis guru- murid inilah yang kita maskud sebagai pijakan dasar sekaligus roh dari pada adanya NU di Indonesia.NU lahir di Surabaya dan digariskan di Tebuireng Jombang dengan roh berasal dari Tanara, Banten.

Kita mencatat banyak ulama-ulama besar yang lahir dari tanah ini ( Tanara ) sebagai cycle of spiritual dengan poros utamanya Syekh Nawawi. Ulama yang sezaman dengan sang poros itu antara lain Syekh Abdul Karim Lempuyang ( Mursyid Thorekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah untuk Asia Tenggara ) Syekh Arsyad Thowil Aslam ( ulama pejuang anti kolonial yang terbuang di Manado ), Syekh Abdul Gaffar Lempuyang ( ulama karismatik yang wali ). Mereka para penyokong utama Manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah yang konsisiten dan sejalan dalam garis perjuangannya dengan sang guru Syekh Nawawi.

Kita apresiasi bahwa Tanara ini patut disebut sebagai tanah dimana ulamanya yang menaburkan nilai-nilai ruhaniyah bagi tegaknya spritualitas perjuangan NU. Kita patut pula mengusulkan ke depan untuk Muktamar NU berikutnya bisa diselenggarakan di Tanara Kabupaten Serang-Banten sebagai sikap penghargaan atau tahaddus bi al ni’am terhadap tanah ini.(Red)

Penulis   : M. Hamdan Suhaemi

Editor      : Sailindra

(27/5/2017)

Related posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY